*PANTANG MENYERAH*
Alkisah, di Kyoto Jepang, ada seorang pria yang putus asa
dan punya pikiran untuk bunuh diri, karena merasa sudah tidak punya arti dalam
kehidupannya.
Namun sebelum ia melaksanakan niatnya, ia teringat ada
seorang guru yang sangat bijak di desa sebelah.
Maka ia pun bergegas pergi menemui guru tersebut, yang
tinggal di sebuah rumah di tepi hutan.
Guru tersebut bernama *Takuan*.
Setelah bertemu, pemuda tersebut langsung meminta
nasihatnya,
“Guru, berikan aku satu alasan yang baik untuk tidak
mengakhiri hidupku dan menyerah.”_
Mendengar pertanyaan itu, guru Takuan menjawab,
“Wahai pemuda yang gagah, coba lihat sekitarmu. Apakah kau
melihat pohon pakis dan bambu itu?”
“Ya, aku melihat,” jawab pemuda itu.
Guru bijak itu menjawab dengan sebuah kisah pendek.
“Ketika aku menanam benih pakis dan benih bambu, Tuhan,
melalui alam merawat keduanya secara sangat baik. Tuhan memberi keduanya
cahaya, dan memberi air.
Pakis tumbuh sangat cepat di bumi. Daunnya yang hijau segar
menutupi permukaan tanah hutan.
Tapi ketahuilah, sementara pakis tumbuh sangat subur, benih
bambu tidak menghasilkan apa pun."
“Pada tahun kedua hingga tahun keempat, pakis tumbuh makin
subur dan banyak, tapi belum ada juga yang muncul dari benih bambu.
Bambu seolah berkata, ‘Aku tidak menyerah’.”
“Kemudian, pada tahun kelima, muncul tunas kecil bambu._
Jika dibandingkan dengan pakis, tunas itu tampak kecil dan
tidak bermakna,” jelas Takuan, guru
bijak itu, pada sang pemuda.
“Tapi, lihatlah, setelah itu, enam bulan kemudian. Bambu
tumbuh menjulang sampai 30 meter tingginya!”
“Begitulah, untuk menumbuhkan akar, bambu perlu waktu lima
tahun.
Akar tersebut membuat bambu kuat dan membuatnya mampu
bertahan hidup,” terang Takuan.
“Ingat, Sang Pencipta tidak akan memberi cobaan yang tak
sanggup diatasi ciptaanNya.”
Pemuda itu pun tercenung mendengar semua ucapan itu.
Guru bijak itu kemudian memberi wejangan.
“Tahukah kau, nak ? Di saat menghadapi semua kesulitan dan
perjuangan berat ini, kau sebenarnya sedang menumbuhkan akar-akar yang kuat?
Sebagaimana alam tidak meninggalkan bambu, Sang Pencipta
juga tidak meninggalkan kamu.
Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain.!"
Bambu mempunyai tujuan yang beda dengan pakis.
Tapi keduanya tetap punya manfaat membuat hutan menjadi
indah.
Yakinlah, waktu kamu akan datang.
Kamu akan menanjak dan menjulang tinggi, asal tetap
mengandalkan Sang Pencipta dalam setiap rencana dan jalan hidupmu.”
Itulah sepenggal percakapan antara guru Takuan dengan
pemuda yang putus asa.
Dari nasihat guru tersebut, pemuda itu tersadar, kemudian
bangkit.
Dan akhirnya dia menjadi seorang pejuang dan pahlawan
hebat.
Dialah: *Takezo Miyamoto Musashi*.
Tokoh pendekar samurai Jepang yang sangat terkenal dan
legendaris.
Kisah perjuangannya diabadikan dalam banyak buku dan film,
hingga tersebar ke seluruh dunia.
Saudaraku...
Kisah tersebut menggambarkan terjadinya proses yang alami,
terasa lambat, namun justru di sanalah mengakar kekuatan yang sebenarnya.
Demikian juga kita dalam kehidupan ini.
Masing-masing orang punya kisahnya sendiri—yang tidak
selalu berjalan lurus dan mulus.
Maka, ketika rasa pahit dan getir kita terima saat ini,
jangan putus asa.
Ingatlah, kita sedang berproses untuk mengakar kuat,
dan saatnya nanti menjelma menjadi “pohon bambu” yang
menjulang ke angkasa.
Dan, dengan akar yang kuat itulah kita akan jauh lebih
tegar, lebih kuat dan lebih tangguh saat kembali diterpa oleh hempasan angin
yang dahsyat sekalipun.
Mari melihat kembali berbagai proses yang kita alami dalam
kehidupan.
Nikmati, resapi, hayati...
dan dapatkan nilai-nilai yang bisa menjadi pegangan bagi
kita untuk berbuat lebih baik dan lebih baik lagi..!
Jika itu terus kita lakukan, niscaya hasil apa pun yang
kita terima, sebenarnya kita telah jadi pemenang sejati kehidupan.
Salam sukses, luar biasa..!
Saudara-riku tercinta...
Komentar
Posting Komentar